Saya PCOS Bisa Hamil Alami
motherhood

Saya PCOS Bisa Hamil Alami

Pada pertengahan Juni 2016 lalu, saya mendapatkan diagnosa PCOS (polycystic ovary syndrome) dari salah satu dokter OBGYN, atau lebih dikenal dengan dokter kandungan dari rumah sakit terkenal di Jakarta. Saya memiliki siklus haid yang bisa dibilang berbeda dari perempuan pada umumnya. Sejak pertama kali haid, siklus datang bulan saya tidak beraturan. Normalnya, perempuan memiliki siklus haid antara 21 sampai dengan 35 hari. Namun, yang saya alami sangat spesial, terkadang rutin setiap satu bulan, tidak jarang pula setiap dua, tiga, bahkan sampai enam bulan sekali. Meskipun demikian, saya tidak pernah mengalami keluhan sakit di bagian reproduksi ataupun gejala PMS (Premenstrual syndrome) yang berlebihan. Semuanya normal, hanya siklusnya saja yang berantakan.

Saya memutuskan untuk datang ke dokter dan melakukan pemeriksaan karena saat itu saya memiliki rencana menikah di bulan September. Sebagai perempuan, saya merasa sangat penting untuk mengetahui penyebab dibalik siklus saya yang tidak beraturan. Setelah menikah, impian memiliki momongan pastinya akan jadi hal yang utama bagi saya dan suami kelak.

Saat kunjungan pertama, dokter melakukan USG untuk melihat kondisi rahim dan ovarium saya. Rahim saya sangat bagus, namun ada yang aneh dengan sel telur saya. Setelah melihat hasil USG, ternyata saya memiliki sel telur dengan ukuran kecil (tidak matang). Saat itu dokter menyatakan bahwa kemungkinan besar saya terkena PCOS. Saat itu saya sama sekali have no clue tentang istilah yang satu ini. Tapi yang saya tau, hal tersebut sangat buruk untuk reproduksi dan masa depan saya. Dokter waktu itu mengatakan saya masih bisa hamil, karena rahim saya bagus, hanya perlu untuk menghasilkan sel telur yang matang. Si dokter langsung menyarankan saya untuk terapi. Ya! Terapi untuk mengembalikan siklus haid saya menjadi normal. Panik karena kemungkinan saya untuk hamil kecil, semua saran dokter saya ikuti. Saat itu, dokter memberikan resep untuk mengatur ulang siklus haid. Dokter memberikan pil KB. Menurut keterangan dokter saat itu, cara ini bisa mengatur siklus haid menjadi normal (Namun, setelah melakukan research kecil-kecilan, saya menyadari ini adalah metode paksa). Akhirnya, saya pulang dengan harapan resep ini manjur untuk mengatasi PCOS saya.

Di rumah, saya mencari tau tentang PCOS dari A sampai Z. Mungkin teman-teman di luar sana ingin tahu apa itu PCOS? Berdasarkan informasi yang saya lansir dari blog alodokter, PCOS (polycystic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik adalah suatu kondisi terganggunya fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur.
Kondisi ini menyebabkan hormon wanita yang menderita PCOS menjadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui. Tanda-tanda awal seorang perempuan menderita PCOS adalah siklus haid dan masa subur (ovulasi) yang tidak beraturan. Apabila dilakukan USG, akan terlihat banyak kista (kantung berisi cairan) pada ovarium, sebenarnya ini adalah sel telur yang tidak matang dan tidak keluar menjadi darah haid. Jika seorang wanita mengalami setidaknya dua dari tiga tanda awal itu, maka kemungkinan ia mengidap PCOS.

Gejala PCOS

Beberapa gejala seseorang mengidap PCOS akan terlihat jelas saat mereka menginjak usia 16 – 24 tahun. Berikut Beberapa gejala PCOS yang saya alami dan saya lansir dari berbagai sumber:

  1. Pertumbuhan rambut yang berlebihan, biasanya di punggung, bokong, wajah, atau dada.
  2. Kulit berminyak atau berjerawat.
  3. Rambut kepala rontok atau menipis.
  4. Stres/Depresi.
  5. Siklus haid tidak teratur.

Saya juga mencari tahu cara mengatasi PCOS melalui artikel dan jurnal-jurnal kesehatan. Selain tetap menjalani terapi awal yang diberikan dokter kepada saya tentunya. Setelah membaca banyak sumber, ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan. Salah satunya seperti yang disarankan dokter kepada saya. Namun, tidak ada jaminan pasti PCOS akan menghilang. Saya juga menemukan kengerian saat membaca artikel dan pengalaman penderita PCOS yang memilih berbagai macam terapi. Ternyata, resiko menjalani terapi ini adalah terbentuknya sel kanker. Saya semakin ngeri. Di satu sisi saya ingin hamil setelah menikah nanti, di sisi lain saya juga tidak ingin kesehatan saya terganggu jika melakukan jenis-jenis terapi yang belum pasti.

Hal yang saya takutkan terjadi, ternyata terapi yang saya jalani saat itu mengalami kegagalan. Ya, saya gagal karena kesalahpahaman tentang dosis resep yang diberikan oleh dokter. Saya sudah tidak mengerti lagi, apakah saya yang tidak paham atau dokter yang tidak bisa menjelaskan dengan baik tentang resep yang diberikan. Alhasil, saya memang mendapatkan haid setelah kunjungan ke rumah sakit, namun darah haid saya tidak berhenti selama 20 hari.

Saya sempat depresi menjelang pernikahan karena hal ini. Akhirnya, suami saya (saat itu masih calon :)) memberikan dukungan yang luar biasa. Suami saya mengatakan: “tidak perlu ke dokter, nikmati saja hidup, dan ubah pola hidup menjadi lebih sehat. Kalau soal anak, rezeki Tuhan yang ngatur.”

Saya langsung menangis, karena diam-diam dia juga mencari tahu tentang penyakit saya dan memberikan nasihat yang luar biasa. Saya juga bangga, suami saat itu tidak memberikan respon yang saya takutkan. Bagaimana tidak, salah satu tujuan menikah adalah menghasilkan keturunan, bukan? Bagaimana jadinya jika PCOS membuat saya sulit hamil?

Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti ke dokter. Memilih alternatif lain dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, dengan makan makanan yang bergizi (no junk food) dan olahraga rutin. Hal paling penting yang harus saya garis bawahi adalah, jauhi stres, jangan banyak pikiran, dan jangan pernah memendam masalah, karena hal ini sangat signifikan dampaknya terhadap perkembangan PCOS.

Saya sangat bersyukur, akhirnya setelah 3 bulan menikah, Tuhan menitipkan kepada kami seorang anak laki-laki. Ya! Saya hamil. Saya bisa hamil. Tanpa obat-obatan. Tanpa terapi. Alhamdulillah, sekarang kandungan saya telah menginjak usia 30 minggu.

Semoga para perempuan di luar sana yang memiliki diagnosa PCOS juga bisa mendapatkan buah hati yang diinginkan tanpa harus terapi dan obat-obatan. Karena satu-satunya obat adalah hidup sehat dan bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *